Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

Naik Taksi di Papua

Transportasi merupakan suatu hal yang sangat diperlukan pada kehidupan masyarakat saat ini, entah itu di perkotaan atau pun di pedesaan. Salah satu moda angkutan yang banyak ditemui di Indonesia adalah angkot ( angkutan kota ), yang merupakan moda transportasi yang digunakan di perkotaan dan menggunakan kendaraan kecil seperti mobil yang bermuatan tak lebih dari delapan orang. Namun angkot dewasa ini juga berada di pedesaan, walaupun namanya angkutan pedesaan namun masyarakat tetap menamainya dengan angkot.
Setelah beberapa hari menjelajahi Kota Sentani, saya baru tahu kalau masyarakat sekitar menyebut angkot dengan nama taksi. Pertama kali medengarkannya saya bingung, karena waktu dari bandara menuju hotel saya menggunakan taksi bandara. Ternyata memang moda transportasi umum di Jayapura dan sekitarnya hanya bisa menggunakan “taksi” dan motor ojek.  “Taksi“ sangat banyak beroperasi dan itupun bermacam-macam dari bentur star wagon sampai kelas minibus. Jarak jauh dekat berbeda tergantung jenis trayek “taksi” tersebut, biasanya kalau dekat cukup membayar Rp 2.000 dan jauh harus membayar antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000 tergantung permintaan sopir. Tapi harga itu termasuk murah untuk kehidupan di Papua, karena harga satu liter bensin Rp 18.000/liter. Wow! pasti bertanya-tanya mengapa mahal sekali harga bensin di Papua? Ya, karena letak geografis Papua yang berada di ujung timur Indonesia maka ongkos distribusi juga membengkak.
Bentuk “taksi“ di Papua sangat berbeda dengan di Jawa, Bali, dan Sumatera karena “taksi” di Jayapura merupakan mobil tanpa modifikasi untuk angkutan umum seperti yang disediakan perusahaan karoseri. Sopir di “taksi“ sangat bervariasi dari bapak-bapak sampai anak-anak berusia 15 tahun. Pemandangan di dalam “taksi“ janganlah heran jika banyak penduduk Papua mengunyah Sirih, sebab itu merupakan hal yang lumrah dilakukan.
Seperti inilah salah satu gambaran keanekaragaman yang ada di bumi Indonesia, sungguh beragam dan khas. Layaklah Indonesia begitu bhinneka, Salam Indonesia !

Perjalanan Panjang Menuju Tanah Papua

Papua, bagi sebagian besar traveller pasti sangat menginginkan pergi menuju kesana karena disana banyak sekali kekayaan yang digali. Banyak sekali destinasi wisata yang dikunjungi di Papua sebutlah Raja Ampat yang sangat terkenal sekarang ini. Cartenz Pyramid salah satu Seven Summits dunia berada di ujung timur Indonesia. Namun, banyak sekali kendala untuk mengunjungi Papua, masalah medan dan juga akomodasi yang sangat sulit dan mahal.
Rabu malam tanggal 12, saya dan tim menuju bandara Soekarno Hatta untuk terbang menuju Papua menggunakan maskapai nasional. Untuk menuju kesana kami harus transit sebanyak dua kali di Makassar dan Biak, dan jarak yang di tempuh lebih dari 2000 mil, itupun harus melewati 2 zona waktu karena letak Papua yang berada di zona waktu Indonesia Timur.
Hampir 6 jam perjalanan menggunakan pesawat, perjalanan yang sangat melelahkan untuk mencapai ibukota Papua. Jetlag, itu pertama kali yang kami rasakan saat tiba di Bandara Sentani karena perjalanan panjang kami. Apalagi ini merupakan pengalaman saya naik pesawat dengan jarak tempuh yang jauh, sungguh mengesankan bisa mengunjungi tanah Papua. Sesampainya di Sentani pandangan pertama sungguh di luar dugaan, sebagai pintu gerbang pertama kondisi Bandara Sentani sungguh semrawut bahkan WC pun tidak ada air.
Setelah bertemu dengan Mas Bara yang merupakan pendamping kami dari Rakata Adventure dijelaskan kalau ada perubahan jadwal lagi karena pesawat yang akan kami tumpangi terjadi beberapa kendala dan salah satunya adalah cuaca yang tidak menentu dan sulit diprediksi. Akhirnya yang seharusnya kami pergi ke Dekai harus mengalihkan perjalanan menuju Wamena itupun masih terkendala dengan cuaca.
Tanah Papua masih menyimpan berjuta-juta keindahan dibalik eksotisme dan kerasnya kehidupan disana. Akan tetapi itu tidak menghalangi kami untuk mengeksplor keindahan bumi Cendrawasih. Salam Indonesia....

Jumat, 11 Maret 2011

Mampir di Desa Wisata Suku Sasak Lombok

,
Welcome to Ende Sasak

Sebelum kami pergi menuju Kota Mataram, kami pergi menuju Desa Wisata Suku Sasak Lombok. Tepatnya di Desa Ende, Lombok Tengah atau utara Pantai Kuta Lombok. Warga desa disana sangat ramah, kami menitipkan motor dan tas carrier kami di gubug tak jauh dari tempat masuk desa tsb. Syarat memasukinya cukup memakai warga sekitar yang akan menjadi tour guide, mereka para warga cukup fasih menggunakan bahasa inggris. Bayaran yang mereka minta untuk masuk berupa sumbangan untuk pembangunan desa dan itupun se-ikhlasnya, tanpa membebankan nominal.

Sedikit cerita tentang suku Sasak Lombok 


Suku sasak adalah salah satu suku terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sekitar 80% penduduk di pulau Lombok ini diduduki oleh Suku Sasak dan selebihnya adalah suku lainnya, seperti suku mbojo (bima), dompu, samawa (sambawa), jawa dan hindu (Bali Lombok). Suku sasak mendiami seluruh pulau Lombok, yang tersebar di tiga Kabupaten, yakni Kab. Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Timur.


Asal muasal disebut Lombok / Sasak


Nenek moyang Suku Sasak berasal dari campuran penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa Tengah yang terkenal dengan julukan Mataram, pada jaman Raja yang bernama Rakai Pikatan dan permaisurinya Pramudhawardani. Kata sasak itu sendiri berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Karena moyang orang Lombok pada jaman dulu berjalan dari daerah bagian barat Lombok (lurus) sampai kearah timur terus menuju sebuah pelabuhan di ujung timur pulau yang sekarang bernama Pelabuhan Lombok. Mereka banyak menikah dengan penduduk asli hingga memiliki anak keturunan yang menjadi raja sebuah kerajaan yang didirikan yang bernama Kerajaan Lombok yang berpusat di Pelabuhan Lombok. Setelah beranak pinak, sebagai tanda kisah perjalanan dari Jawa memakai sampan (sak-sak), mereka menamai keturunannya menjadi suku Sak-sak, yang lama-kelamaan menjadi Sasak.

Rumah Adat Suku Sasak:

Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat tersebut didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Pintu yang rendah sengaja dibuat terutama di rumah kepala suku yang menandakan kehormatan karena ketika masuk harus menundukan badannya.



Sistem Perkawinan Suku Sasak

Perkawinan yang terjadi di suku sasak dimulai dari adanya pelarian si pihak wanita oleh si pria. Awalnya bisa didasari mereka saling suka atau tidak sama sekali, tinggal si prianya saja yang mencari strategi untuk membawa lari sang wanita. Setelah itu, baru perwakilan keluarga saling berkompromi untuk menebus kembali sang wanita. Perkawinan yang terjadi pun masih bersifat perkawinan saudara, yaitu perkawinan antar sepupu. Perkawinan yang terjadi masih seputar satu lingkungan mereka. Walaupun mereka mayoritas beragama islam, namun adat perkawinan antar saudara masih tetap dilestarikan. Jika suku sasak ingin menikah dengan suku lain yang berbeda provinsi, biasanya si calon pasangannya harus membayar denda yang cukup banyak di setiap desa yang dia lalui






Jumat, 10 Desember 2010

Karimunjawa :All You Can See

Karimunjawa : All You Can See


Ujung Gelam, the west coast of Karimunjawa
Traveling still becomes our passion. Then we choose Karimunjawa as our next trip there are many Karimunjawa’s package offered but we didn’t take it.  We went there independently. For this trip we didn’t go alone. Our friends joined this trip, they are: Boni, Willy, and Boni’s brother. So we cant use our motorbike for this trip. But, the tramp’s philosophy still exists on this trip. We gathered at Jombor bus station, Yogyakarta around 12 pm then looking for bus to Semarang. We choose the cheapest bus (we don’t remember the bus’s name), honestly, this bus was super terrible. Normally we can reach Semarang for 3,5 hours, but using this bus, we reach semarang for 4,5 hours. I suggested you to take the “normal” bus, it cost only rp.35.000 meanwhile our bus is rp.18.000. Now we know that money still talks. We arrive at semarang around 4.30 pm, Our journey has not ended, we still need to reach Jepara where the harbor to go over to Karimunjawa located. We got the last bus, and this one is the most terrible bus I ever had! Why? The driver is like in trance! He’s driving like a hell and ignores all the passengers inside. Feel like the next second is our last breath. But lucky us, we arrived Jepara safely. We pay this “devil bus” for rp.15.000.  Try it. Feel like you’re riding roller coaster.


We still have to go to the harbor from Alun-Alun Jepara (the termination point of “devil bus”). We decide to walk to get the harbor. We walk about 4 kilometer to the harbor. It was already dark when we get the harbor, so we have to spend the night in the harbor, sleeping without any tent or mattress and also we are accompanied by the blood-sucking bastards (read it: mosquitoes). Lucky us, we still alive, without infected by malaria or any mosquitoes disease. Around seven after the breakfast we have to buy ferry ticket to go over the Karimunjawa. Six hours left to see Karimunjawa. We pay rp.30.500 for this ferry boat.


Finally we can see Karimunjawa. The water was amazing; we can see fishes swimming freely on the water. Karimunjawa isn’t the only island we will visit. But there are many little islands around Karimunjawa. Okay, after we are in the slow ferry about for 6 hours. We have to find somewhere to sleep. We’re not taking hostel that time. But we heard from someone journal in Kaskus that someone stays at homestay, which is, belong to Karimunjawa residents, and he only pay for rp.15.000 per night. Yes we take it. The homestay. We have to walk for another 4 kilometre to reach the homestay, still with massive backpack. Seem that will break our back. Ouch! Finally we reach the homestay. How is the rp.15.000 homestay? It is okay. Clean and feels like home.The only problem is when the night comes. Mosquitoes will start to suck our blood.


Next day...


We decided to do snorkeling around Karimunjawa islands. What’s good here? THE WATER! We feel like we’re swum at the pool. But actually we are in the middle of ocean  . Was fun!


Ujung Gelam is our next stop. It’s the west coast of Karimunjawa Island. We’re having lunch in this place. Like picnic, we’re brought our trangia (its kind of mini outdoor stoves). We’re cooking here . While cooking some of boys climb the coconut tree. We have our coconut drink for free actually. Ujung gelam has fine sand. We’re doing snorkeling again here. Corals and colorful fishes are accompanied our snorkel time. After kill the time in Ujung Gelam we’re continuing to Menjangan Besar Island. Here’s where fancy resort located. I love this island, silent and calm, also clean. Because when we were in Ujung Gelam, its not clean at all, rubbishes everywhere. We can do fishing here or snorkeling. After that we’re heading to the shark and turtle conservation. We can swim with the baby shark here. It’s not dangerous. So no worries. 


Sun goes down. Time for us to go back to the homestay. Lucky us that time the sun goes down beautifully, we’re enjoyed the sunset on the boat, in the middle of ocean.


The next day..


We didn’t cross over to another island, but we stay at Karimunjawa. We try to explore Karimunjawa itself. We go to the hills, firstly we’re planned to do camping at the hills but people told us so many dangerous viper snake on the hills. So we didn’t do it. We just go up to the hills. Not much to see here. Only trees and the beach isn’t lovely. Dirty. And we can do such a sunbathing here. At the night we’re go back, and hang out with the locals. And tomorrow we have to back home with the same route in the beginning, except the economic buss from Semarang-Yogyakarta. We take the normal one for rp.35.000. Oh ya, on the way back home on ferry. We saw two dolphins swim alongside. Was really beautiful.

Hugs,
Joanne and Jacob

Here’s our cost details to visit this place  for one person:
1. Economic Bus from Yogyakarta to Semarang        :rp.18.000
2. Bus from Semarang to Jepara                                   :rp.15.000
3. Dinner at Jepara                                                          :rp   7.000
4. Breakfast at Jepara Harbor                                       :rp.  7.000
5. Ferry boat 2X (include for returns)                          :rp.61.000
6. We do cooking for lunch                                             :rp.Free
7.Homestay per night 15.000X2                                    :rp.30.000
8.Dinner the local food (sea food)                                  :rp.10.000
9.Breakfast in the homestay                                             :rp.10.000
10.Rent the local boat to get around the island            :rp.35.000
11.Lunch on the next day is free, we’re cooking           :rp.free
12.Dinner                                                                            :rp.10.000
13.Breakfast  at the homestay again (the day 2)          :rp.10.000
14.Lunch at the local warung                                           :rp.   7.000
15.Dinner at local warung                                                 :rp. 10.000
16.Breakfast for the last day before we’re leaving        :rp.10.000
17.We took becak from Jepara Harbor to bus station   :rp.10.000
18.Bus from Jepara to semarang                                      :rp.15.000
19.Bus from Semarang to Yogyakarta                            :rp35.000
Total :                                                                                 rp.300.000
 nb: if you're not planning to cook like us just add rp.10.000 for ur food 


more info about Karimunjawa accommodation (click here)


more picture, click the gallery.