Tampilkan postingan dengan label aku cinta indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku cinta indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Jungle Training dan Pacet di TN Situ Gunung Sukabumi

Tanggal 7 Oktober 2011, pukul 05.00 WIB jam tangan mulai berdering begitu pula dengan handphone saya yang berada tak jauh dari tempat saya tidur. Setelah semalam saya menyiapkan segala peralatan yang akan digunakan untuk mengikuti Jungle Training ACI 2011 di Situ Gunung, Sukabumi. Pukul 06.40 akhirnya saya terbang meninggalkan Bandara Adisucipto menuju Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.
Dari Cengkareng menuju Blok M menggunakan Bus Damri yang nyaman dengan ongkos hanya Rp 20.000,00. Setelah turun di depan SMA 6 Jakarta, ternyata diluar dugaan bertemu teman lama dan saya diantar menuju kantor Rakata Adventure yang tidak jauh dari tempat saya turun.
Ternyata di kantor Rakata sudah berkumpul beberapa kawan-kawan dari tim Papua 1 dan Maluku. Setelah bercakap-cakap teringat perut saya belum diisi, dan akhirnya Mas Bara menghentikan pedagang Ketoprak untuk mengisi perut kosong. Tim saya dipanggil Mas bara selaku pendamping Tim Papua 2 karena ada penjelasan perubahan jadwal ketika berada di daerah Suku Korowai Kombai. Perubahan ini disebabkan cuaca di daerah timur Indonesia sudah mengalami pergantian ke musim penghujan, beberapa sungai yang digunakan tidak dapat di lalui oleh long boat yang akan kami sewa. Jadi kami harus trekking untuk mencapai beberapa tempat yang akan saya kunjungi dengan anggota tim saya. Pastinya akan melewati rawa-rawa yang sangat berat, karena Suku Korowai Kombai hidup di dataran rendah dan berada tak jauh dari sungai.
Pukul 12.00 WIB, saya dan kawan-kawan yang akan mengikuti Jungle Training berkumpul menuju Terminal Lebak Bulus dan menuju Cisaat, Sukabumi menggunakan bus.
Setelah mendengarkan arahan mengenai tata cara hiking, mountaineering yang aman. Saya mandi dan makan, lalu menikmati nikmatnya tidur di tenda yang nyaman dengan Mas Bram dan Mas Darma karena tenda yang seharusnya berisi 6 orang hanya diisi 3 orang.
Pagi pukul 06.00 WIB, ternyata hujan dan ternyata hujan sejak dini hari. Dan seperti dugaan awal, pacet akan keluar dari persembunyiannya. Pacet menurut KBBI adalah binatang pengisap darah, sekerabat dng cacing tanah, berbadan langsing mengecil ke depan, berwarna cokelat kekuning-kuningan sampai kehitam-hitaman, panjangnya sampai 50 mm, pd kepala terdapat lima pasang mata dan sebuah alat sbg pengisap, di ujung belakang terdapat alat sbg pelekat, berjalan spt ulat jengkol, dapat memipihkan tubuh sampai sekecil benang; Haemadipsa teylandica
Baru berjalan sekitar 20 menit saja, sudah ada yang jackpot dengan langsung ditempel 3 pacet sekaligus di kakinya. Dan akhirnya saya merasakan dihisap pacet di kaki. Kondisi Hutan Hujan Tropis yang sangat lembab dan basah menyebabkan banyak sekali binatang seperti pacet tumbuh subur apalagi sangat berdekatan dengan sumber mata air. 
Pacet biasanya menunggu mangsanya dengan menempel pada daun-daunan atau batang pohon, lalu dengan detektor panasnya dia akan meloncat setiap kali ada mangsanya yang lewat. Ada gurauan mengenai pacet, bahwa yang di depan selalu terkena paling banyak pacet. Ternyata justru sebaliknya yang paling belakang paling sering terkena lebih banyak, biasanya yang di depan akan berlari lebih kencang apalagi sudah mengetahui juka daerah tersebut memiliki banyak pacet.

Kami sering melakukan namanya CP (Cek Pacet) ditubuh, tidak tanggung-tanggung si pacet mencari spot menghisap darah sampai ada yang di perut dan ketiak juga. Setiap kali melewati daerah yang rimbun selalu cek kaki, apalagi tidak memakai celana panjang. Rasanya bila pacet sudah mulai beroperasi menghisap darah adalah seperti di gigit nyamuk atau semut. Dan sialnya karena pacet memeliki zat yang bisa membuat pembekuan darah menjadi sangat lama jadi luka harus ditutupi kalau tidak darah akan terus keluar. Namun pacet sendiri hanya menghisap darah kotor dan akan lepas jika sudah merasa cukup memangsa darah.
Peperangan dengan pacet tidak berhenti sampai kami mendirikan tenda pun pacet tetap bergerilya mencari darah. Bahkan ada yang terkena di leher dan perut lagi,padahal selalu CP sebelum masuk tenda.
Begitulah pengalaman mengenai Jungle Training dan teman kami PACET ! :D

Selasa, 15 November 2011

Hiniota Nibre


Hiu paus (Rhincodon typus) adalah pemakan yang merupakan spesies ikan terbesar. Hiu ini adalah satu-satunya anggota dari Rhincodon dan Rhincodontidae (disebut Rhinodontes sebelum tahun ), yang masuk kedalam subkelas  pada kelas . Hiu ini dapat ditemui di samudera tropis dan hangat dan hidup di laut.
Spesies ini dipercaya berasal sekitar 60 juta tahun yang lalu (wikipedia). Namun di Nabire, Hiu Paus memakan ikan puri (ikan teri) yang memang sangat banyak di Papua. Taman Nasional Teluk Cendrawasih menjadi kawasan konservasi bagi hiu paus, di sana terdapat bagan-bagan yang digunakan nelayan untuk mencari ikan. Setiap malam menjelang, lampu-lampu bagan hidup maka dimulailah pekerjaan mereka.

Salah satu peneliti Hiu Paus pernah menuju Nabire dan dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Hiu paus di Nabire tidak memakan plankton namun ikan puri dan tidak takut dengan keberadaan manusia.

Hari kedua kami mengunjungi salah satu bagan, cukup mudah untuk menemukan bagan mana yang ada hiu paus yaitu bagan yang banyak sekali burung-burung laut yang notabene pasti di situ banyak ikan dan pasti hiu paus ada di situ. Setelah kapal kami bersandar di bagan tersebut, kami bertemu dulu dengan nelayan pemilik bagan dan membeli ikan puri yang akan digunakan untuk memberi makan si hiu paus.
Orpha, Yance dan Zakeus mencoba memanggil hiu paus agar naik menuju permukaan dan Om Bram juga turun tangan. Awalnya saya cukup takut untuk terjun ke dalam air, selain takut akan kedalaman juga takut dengan hiu paus yang masih asing bagi saya.
Bang Donny dan Dinda sudah turun dan ikut bermain dengan hiu paus, akhirnya saya ikut turun ke laut karena sangat rugi jika sedekat ini tidak menyentuh hiu paus. Gilang yang juga takut dengan kedalaman akhirnya ikut masuk ke dalam air, walaupun saya dan Gilang masih berpegangan pada jala bagan.
Benar sekali kalau hiu paus sangat jinak, saya berenang bersamanya dan hiu paus tetap tenang. Dan hiu paus terlihat sangat menikmati ikan puri yang diberikan oleh kami. Waktu itu ada empat ekor, berenang dengan panjang rata-rata 8 meter. Ikan yang sangat besar, Orpha mencoba mengajaknya bermain. Terkadang si hiu memutari kami yang sedang berenang dan mereka bergantian menyantap ikan puri.
Hari ketiga kami datang kembali karena memang kami belum puas untuk bertemu dengan hiu paus. Kali ini kami datang bersama Pak Muis dan Dunia Air, mereka akan mengambil gambar hiu paus. Speedboat yang kami gunakan mulai dekat dengan bagan, dan hiu-hiu itu sudah tampak. Memang seram sekali, jika hanya siripnya yang terlihat dengan volume mereka yang besar seperti itu. Namun itu berarti penyambutan kembali bagi kami, sungguh cantik sekali hiu paus.
Setelah Pak Muis dan Dunia Air selesai mengambil gambar, kami tak malu-malu lagi seperti kemarin. Langsung kami terjun ke dalam air, kali ini kami benar-benar beruntung karena ada yang berukuran 12 meter ikut naik ke permukaan. Walau arus air laut sangat kencang, bahkan kami sempat terbawa arus dan cukup jauh dari bagan. Itu tak menghalangi kami untuk tetap menikmati dan bertegur sapa dengan si hiu paus.
Oleh Om Bram kami disuruh naik karena sudah terlalu sore dan nampaknya gelombang sudah mulai besar, dengan berat hati kami naik ke speedboat. Sungguh kenangan yang tak terlupakan bagi kami tim Papua 2 ACI detik.com. Suatu saat kami pasti kembali ke Nabire, karena kami ingin bertegur sapa dengan mereka lagi. Hiniota Nibre...
Sebenarnya hiu paus tidak hanya terdapat di Teluk Cendrawasih Nabire saja, namun di Ujung Kulon, Madura, Triton juga ada karena hiu paus senang berada di perairan tropis. Setiap daerah memiliki sebutan bagi hiu paus seperti di Papua dengan sebutan Gurano Babintang, Kwatisore dengan sebutan Hiniota Nibre, Jawa dengan sebutan Geger Lintang, Madura dengan sebutan Kikaki bahkan di Filipina mereka menyebutnya Butanding.

Kamis, 18 Agustus 2011

Jakarta : Awal mimpi kami

Cerita ini bermula ketika Kami ke Jakarta untuk memenuhi panggilan wawancara ACI, sebuah program yang mengakomodir para pecinta traveling untuk keliling Indonesia, gratis. Ya, kami kandidat 750 besar. Cukup bersyukur, karena dari puluhan ribu peserta kami berdua lolos 750. Kondisi Jacob yang kala itu terserang flu berat tidak menghalangi langkah kami ke Jakarta untuk memenuhi panggilan wawancara. Tiket bus-pun dipesan. Berangkatlah kami ke ibukota.

12 Jam perjalanan. Dengan kondisi Jacob yang suhu tubuhnya berkisar 39 derajat celcius. Cukup berat.

Kami menginap di kawasan Jakarta selatan, tempat sanak saudara si Jacob tinggal. Satu hari setelah sampai di Jakarta kondisi Jacob tidak berangsur baik. Malah, semakin buruk. Padahal, keesokan harinya adalah wawancara.

25 Juli 2011

Wawancara kami dimulai setelah jam makan siang. Langkah kaki yang tak sama semangatnya seperti biasa mengayun pelan menuju angkutan nomor 08 yang akan membawa kami ke daerah terminal lebak bulus. Dari sana kami harus oper bus lagi menuju kawasan warung buncit, dimana kantor detik berada.

Waktu wawancara tiba. Kami mendapat nomor 344 dan 345. Setelah berbagai proses pengisian data, pengambilan gambar, dan foto tiba saatnya yang ditunggu, wawancara. Setelah menunggu kurang lebih 1.5 jam tibalah kami untuk wawancara. Bersyukur, kami masuk berdua.

Berbagai macam pertanyaan dilontarkan oleh ketiga juri.

Seingat saya...

Ceritakan diri kamu....

Tempat mana yang pengen kamu kunjungi...

Dan sebagainya...

Sewaktu pengisian data memang kami memasukkan blog yang sama. Yakni blog ini.. Otomatis juri tahu kami memang menjalin kasih...

Ada pertanyaan, “bagaimana bila hanya salah 1 dari kalian yang lolos program ini? “ dengan logat jawa saya yang kental sayapun menjawab, gapapa, kami santai kok. Karena tujuan kami traveling bukan pacaran, tapi menyebarkan virus cinta Indonesia melalui keindahan alamnya. Dan sayapun mulai bercerita kalau kamipun tidak jarang solo traveling, bukan sepenuhnya solo traveling sih tapi traveling dengan kawan masing-masing" J

Dan yang paling saya ingat adalah ketika mereka bertanya... apa kekurangan Jacob ketika traveling?

Jujur ini pertanyaan sulit, karena bagi saya selama kami menjelajah, dia selalu melindungi saya. Tidak ada hal negatif tentang dia. Bahkan ketika saya mengeluh selama perjalanan dia terus menyemangati saya..Akhirnya karena dipaksa menjawab oleh juri itu saya jawab.. Jacob cuma kurang uang... Sambil bercanda saya lontarkan pernyataan itu.. Spontan ketiga juri tertawa... Sungguh wawancara yang jauh dari perkiraan saya. Wawancara siang itu justru seperti sharing yang penuh dengan canda tawa...

Tibalah hari pengumuman 60 besar...Tepatnya kemarin, tanggal 18 agustus 2011.

Saya tidak terpilih. Tapi saya bersyukur, karena orang yang saya sayangi masuk ke 60 besar. Ya, Jacob terpilih.

senangnya, saya bisa mengatakan hal positif kpd mrk tentang si Jacob, krn utk mengatakan hal negatif ttg dia, trlalu sulit bagi saya

Saya 100 persen tidak kecewa mengapa tidak terpilih, bagi saya, paling tidak usaha kami ke Jakarta tidak sia-sia karena Jacob masuk ke 60 besar. J

Ketika peserta lain dengan bangganya bercerita tentang pengalaman divingnya, sementara Jacob cuma bisa snorkeling.. Ketika orang lain bermuluk-muluk untuk memilih Raja Ampat, dan Jacob cuma memilih Alas Purwo, Banyuwangi. Jacob, aku mulai mengerti mengapa mereka memilih kamu. Saya bangga kamu masuk ke dalam 60 besar dan diberi kesempatan menjelajah sudut terindah negeri ini. Kamu mencintai alam apa adanya, dan kamu pantas. Lakukan yang terbaik untuk ini. Perjalananmu sudah di depan mata. Beri kawan-kawan pembaca blog ini virus lagi.. untuk mencintai negri, saya akan menunggu kamu dan dengar cerita-ceritamu. I will always support you till the end.



Dari Joanne untuk Jacob dan kawan-kawan rubbertramp :D

Cherioooooo