Selasa, 20 Desember 2011

Kwatisore


Kwatisore, desa yang berada di dalam Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire, Papua. Letaknya tidak jauh dari Kali Lemon, hanya setengah jam menggunakan speedboat. Dermaga kayu kokoh sebagai pintu masuk Kwatisore, terdapat Koramil dan Polsek yang tertata rapi dan sedap dilihat. Jalanan Kwatisore bersih dan tidak ada kendaraan bermotor, sore itu jalanan sangat ramai dengan anak-anak yang bermain bahkan di pantai mereka sedang mandi dengan tawa gembira mereka.
Rumah-rumah kayu tertata rapi walau di sana tidak ada listrik karena generator listrik yang rusak tapi di tengah-tengah desa terdapat bangunan yang digunakan untuk menonton televisi oleh warga dan yang paling “ wah “ adalah televisi mereka adalah televisi plasma 32”. Di tempat itu juga mereka bertegur sapa jika sudah malam. Kwatisore memiliki Sekolah Dasar dan Puskesmas juga. Walau jauh dari Nabire, warga dapat bersekolah dan memeriksa kesehatan pada mantri desa karena dokter hanya datang pada hari tertentu.
Masyarakat Kwatisore sebagian besar merupakan nelayan tradisional, mereka menggunakan kole-kole (longboat kayu) untuk menangkap ikan. Selain itu di Kwatisore terdapat para transmigran dari Jawa sejak tahun 70an. Ada istilah menggelikan di sini seperti mujair ( muka jawa asli irian ) dan memang di sana beberapa warga memiliki nama jawa ( Yanto, Agus, dll ). Tak jauh dari desa, sebuah perusahaan kayu yang sekarang tidak lagi beroperasi dan terdapat perahu tongkang pengangkut kayu.
Beberapa warga di Kwatisore memelihara rusa dan buaya muara, cukup menegangkan ketika kami mencoba memotret buaya muara yang sudah cukup besar. Selain itu di halaman rumah warga banyak ditemukan anggrek-anggrek yang sangat cantik, yang mereka ambil dari hutan. Di belantara Papua masih banyak sekali endemik anggrek-anggrek yang tidak pernah kita temui justru ditanam oleh warga.
Kalau kita ingin pergi ke Kwatisore haruslah saat pagi, karena jika siang hari gelombang perairan Teluk Cendrawasih cukup tinggi. Dan kalau sore seringkali hujan walau pada musim kemarau sekali pun, dari situlah nama Kwatisore muncul. Dari kata “Khawatir Sore“ selalu hujan.
Ketika kami akan kembali menuju Kali Lemon, banyak warga di dermaga, mereka memancing ikan yang memang sangat banyak sekali berada di pinggir dermaga. Matahari semakin terbenam, saatnya kami meninggalkan Kwatisore yang ramah. Sampai jumpa kembali, memori kebaikan warga Kwatisore akan kami simpan dan kenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar